OFFICIAL WEBSITE SMPN 3 WULANGGITANG - KAB. FLORES TIMUR
=SEKOLAH UNTUK SEMUA=

  • Kepala Sekolah

    Kepala Sekolah

  • Latihan Pramuka

    Latihan Pramuka

  • Pidato Bahasa Inggris

    Pidato Bahasa Inggris

  • Membaca  di Perpustakaan<,center>

    Membaca di Perpustakaan

  • Suasana Ujian

    Suasana Ujian

Sunday, December 16, 2018

Flotim Kabupaten Literasi, Lalu Apa?


Suka atau tidak suka, survey membuktikan bahwa minat membaca bangsa Indonesia masih rendah. Hasil penelitian Perpustakaan Nasional Tahun 2017 menunjukkan, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata 3-4 kali per minggu dengan lama waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Angka ini berada jauh dari waktu membaca yang disarankan UNESCO, yaitu 4-6 jam per hari. Ada pun buku yang ditamatkan per tahun hanya 5-9 buku (Kompas, 12/9/2018). Kondisi ini diperparah data dari Badan Pusat Statistik tahun 2015 yang menunjukkan sekitar 91,47 persen anak usia sekolah lebih suka menonton TV, sementara yang suka membaca hanya 13, 11.
Fakta ini menunjukkan bahwa tingkat literasi kita sangat memprihatinkan kalau tidak mau dikatakan buruk. Situasi yang memprihatinkan ini menjadi ancaman karena kehidupan “tanpa tulisan dan buku” bisa terjadi di masa yang akan datang. Merosot dan hilangnya budaya alfabetik bisa saja dipandang sebagai salah satu bagian dari bencana kemanusiaan (catatan pengantar Sayuti dalam Tarian Salju Karaban. 2015:vii).
Menghadapi ancaman kehidupan “tanpa tulisan dan buku” di atas, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan mengeluarkan Permendikbud No 23 tahun 2015. Permendikbud ini selain untuk penumbuhan budi pekerti juga menumbuhkan minat baca peserta didik serta keterampilan membaca. Salah satu kegiatan dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai”.
Gema literasi yang digaungkan bergema hingga ke pelosok. Tidak terkecuali di Flores Timur. Menindaklanjuti GLS tersebut, Pemerintah Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga mengeluarkan Surat Edaran kepada para kepala TK/ RA, SD, SLTP dan SMA/ SMK se-kabupaten Flores Timur, tanggal 05 Apil 2017. Surat edaran tersebut adalah seruan untuk membumikan budaya membaca di Kabupaten Flores Timur dengan: (1) Memiliki perpustakaan sekolah dan atau minimal perpustakaan kelas; (2) Memiliki tenaga perpustakaan sekolah dan atau petugas taman baca; (3) Memiliki program baca secara terjadwal; (4) Memilki buletin sekolah dan atau majalah dinding; (5) Memiliki ruang atau area baca, gambar dan bermain bagi anak-anak PAUD; (6) Memiliki kegiatan lomba kreativitas menulis dan membaca anak; (7) Melibatkan orangtua dalam gerakan literasi di rumah.
Dari surat edaran tersebut dapat dibaca bahwa sekolah harus memainkan peran pertama dan utama dalam membumikan budaya membaca. Sekolah harus menjadi pioner dan guru menjadi role model dalam membaca. Sekolah harus menjadi lokomotif dalam menggerakkan budaya membaca. Sekolah harus menjadi basis pembudayaan literasi. Pesan ini beralasan karena pendidikan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca. Tidak ada pendidikan tanpa membaca. Tanpa membaca proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah tidak akan berjalan dengan baik. Ya, membaca adalah jantung pendidikan.
Karena itu keberhasilan surat edaran tersebut tergantung pada sekolah. Sukses atau gagalnya gerakan membaca ditentukan oleh sekolah. Artinya mimpi menjadikan kabupaten Flores Timur sebagai kabupaten literasi ditentukan oleh kesiapan sekolah mewujudkan konkretkan isi surat edaran tersebut. Melihat kondisi sekolah-sekolah di Flores Timur sekarang ini, tantangan terberat adalah ketersediaan bahan bacaan. Fakta bahwa masih ada sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Sementara sekolah yang sudah memiliki perpustakaan pun “isi” perpustakaan sangat minim. Begitulah fakta. Banyak sekolah, selain tidak memiliki gedung perpustakaan, koleksi bahan bacaan yang dimiliki tidak memadai.
Muara dari surat edaran tersebut adalah menjadikan kabupaten Flores Timur sebagai kabupaten literasi. Mimpi ini tidak mudah memang. Tekad menjadi kabupaten literasi ditengah rendahnya minat membaca bukan perkara gampang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bukan suatu yang mustahil diwujudkan.

Flotim Kabupaten Literasi
Setahun sudah surat edaran Kepala Dinas PKO dikeluarkan. Dan geliat literasi kini mulai menampakkan wajahnya di bumi Lamaholot. Taman baca hadir dimana-mana dengan beragam aktivitas. Berdasarkan data yang dikeluarkan Pustaka Bergerak Indonesia per November 2018, di Flores Timur ada 23 Taman Baca yang terdata untuk menerima kiriman buku secara gratis setiap bulan. Saya yakin masih banyak sekolah dan atau taman baca di Flores Timur yang tidak terdata tetapi terus bergerak menghidupkan roh literasi.
Selain itu, pergerakan AGUPENA Flores Timur menyebarkan virus literasi ke sekolah-sekolah juga mulai membuahkan hasil. Aktivitas yang diawali dengan pendistribusian buku-buku bacaan ke sekolah-sekolah mampu memprovokasi sekolah untuk menggeliatkan literasi. Tidak hanya itu, bimbingan dan pelatihan menulis juga diberikan baik kepada guru maupun siswa. Berbagai event digelar untuk memberikan ruang kepada siswa mengekplorasi potensi yang mereka miliki. Sejalan dengan itu, buku-buku hasil karya siswa dan guru perlahan-lahan mulai terbit.
Perlombaan Taman Baca kreatif dan guru penggerak literasi pada moment peringatan ulang tahun ke-12 AGUPENA Pusat menambah semarak gerakan literasi di Flotim. Pada kesempatan tersebut, para guru dan pengelola taman baca berbagi kisah dalam menghidupkan literasi. Dari sharing pengalaman tersebut, ternyata gerakan literasi di Flotim tidak hanya bergerak di ruang-ruang kelas atau terpusat di taman-taman baca tetapi sudah merambat hingga ke dapur. Ya, di Flores Timur literasi masuk dapur menyapa ibu-ibu sebagaimana digerakkan Ibu Siti Hayon bersama pengurus PPK Desa Boru.
Melihat pergerakan yang begitu masif, Bupati Flores Timur – yang selama ini selalu memantau pergerakan literasi di Nagi Tanah – pada moment perayaaan Hari Lahir Agupena Pusat, Rabu (28/11/2018) mendeklarasikan Flores Timur sebagai kabupaten literasi.

Lalu Apa?
Deklarasi ini menunjukkan bahwa Pemerintah Flotim memiliki komitment dalam menumbuhkan budaya membaca dalam diri masyarakat Flores Timur. Karena rendahnya budaya membaca akan berdampak pada lambannya kemajuan suatu bangsa atau daerah. Sebaliknya masyarakat yang literat akan berkontribusi positif bagi produktivitas bangsa/ daerahnya.
Namun komitment saja tentu tidak cukup. Komitment itu harus diimplementasikan dalam kebijakan konkret mendukung gerakan literasi. Deklarasi tidak boleh hanya bernunsa seremonial belaka tetapi harus membumi. Karena itu tidak ada salahnya kita berkaca pada daerah lain yang sudah mapan aktivitas literasinya. Ambil contoh Kabupaten Lumajang yang mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Kabupaten Literasi pada tahun 2017. Hidupnya gerakan literasi di Lumajang didasarkan pada Keputusan Bupati Lumajang tentang Tim Penyelenggara Lumajang Berliterasi. Dalam konteks Flores Timur, hemat saya diperlukan payung hukum yang lebih tinggi untuk memperkuat Surat Edaran Kepala Dinas PKO Flores Timur dalam bentuk peraturan daerah.
Contoh lain, Pemkot Surabaya dalam menumbuhkan minat baca anak-anak, mendirikan taman baca masyarakat hingga tingkat RW yang jumlahnya kini 1.428, memberikan bantuan sarana terutama buku bacaan, mempekerjakan petugas teknis perpustakaan di semua taman baca, mengoperasikan mobil perpustakaan. Dari sini saya bermimpi bahwa Pemda Flotim akan merealisasikan komitmentnya dengan membangun “Taman Literasi” di Taman Kota Larantuka. Perpustakaan daerah sebagai “Rumah Literasi” juga dibangun di sana dengan koleksi buku yang memadai. Dengan demikian, masyarakat yang datang saban sore hingga malam di taman kota Larantuka tidak hanya menikmati kuliner tetapi juga bisa melahap buku bacaan yang tersedia. Selain itu Pemda bisa “mengintervensi” desa untuk mengoalokasikan dana desa guna membangun taman baca masyarakat dan pengadaan bahan bacaan. Jika ini direaliasikan geliat literasi di ujung timur nusa bunga akan semakin semarak. Semoga mimpi saya menjadi kenyataan.

Sunday, October 2, 2016

Ajarkan Tenor-Alto-Sopran, Kini Suara SPENTIG Makin Merdu

Salah satu agenda SPENTIG pada bulan Oktober adalah "Lomba Paduan Suara" menyanyikan Mars SMPN 3 Wulanggitang dan satu lagu daerah NTT. Demi menyukseskan hal ini beberapa guru bekerja ekstra keras untuk memberikan bimbingan pada siswa-siswi SPENTIG supaya lebih baik dalam paduan suara. Guru dimaksud tidak lain adalah Yosefina Nogo Hodo, S.Pd dan Klara Gelu Mare, S.P.


Ibu In Hodo, sapan akrab Yosefina Nogo Hodo, S.Pd, sangat intens mengajarkan NOT ANGKA pada siswa-siswi SPENTIG. Beliau selalu menekankan pada peserta didik supaya lebih dahulu mempelajari NOTASI sebelum mulai menyanyikan lirik. "Dengan menghafal NOT ANGKA, kita bisa memadukan suara dengan baik dan mudah", lanjut Ibu In Hodo.

Hal yang senada juga diajakan oleh Ibu Klara, bahkan tidak jarang Ibu Klara harus mengunjungi kelas satu per satu untuk memastikan bahwa peserta didiknya tidak ada yang belum paham. Ibu Klara biasa mencontohkan suara Sopran - Alto - Tenor pada siswa-siswi SPENTIG, sehingga apa yang beliau sampaikan mudah untuk dipahami dan diikuti. (ysu)

Bina Karakter Siswa, Warga SPENTIG Wajib Bersalaman dan Tersenyum

Pendidikan Berkarakter merupakan salah satu agenda wajib bagi SMPN 3 Wulanggitang. Hal ini dijabarkan lebih lanjut dalam Slogan 7S - diantaranya adalah Senyum-Sapa-Salam. Inilah yang dibiasakan oleh SMPN 3 Wulanggitang kepada siswa-siswinya melalui Kegiatan Salam Bersama setelah upacara bendera hari Senin.


Siswa-siswi berbaris dengan rapi untuk bersalaman dan memberikan senyum terbaik mereka pada bapak/ibu guru mereka, begitu pun sebaliknya. Guru juga harus memberikan salam dan senyum untuk murid mereka, dan diharapkan senyuman dari guru bisa memberikan motivasi dan dorongan bagi siswa untuk lebih akrab dengan sekolah.

Kepala SMPN 3 Wulanggitang, Yohanes Hegon Kelen, S.Pd, melalui akun media sosialnya menyampaikan bahwa "PENDIDIKAN KARAKTER SPENTIG_HEWA.RUTINITAS SEUSAI UPACARA BENDERA, SISWA BERSALAMAN DGN SMUA GURU N PEGAWAI. SATU HATI, SATU TEKAD MENCERDASKAN ANAK BANGSA". Hal tersebut adalah bentuk komitmen nyata dari SMPN 3 Wulanggitang akan terwujudnya karakter baik pada siswa-siswi SMPN 3 Wulanggitang. (ysu)